Sabtu, 23 Januari 2010

Sang Pemimpi Malam tadi aku diajak menonton film oleh kekasihku. Bioskop terbagus di kota ini, di satu-satunya bioskop itu kami menonton. Sebuah film karya Riri Riza bertajuk “Sang Pemimpi”. Tanggal 19 Januari 2010 kemarin adalah pemutaran perdana film itu di kota kami setelah lama kami dengar bahwa film itu adalah lanjutan film “Laskar Pelangi”. Film yang sedikit dialog ini sangat menarik seperti film yang mendahuluinya. Revolusi kebudayaan. Itu mungkin salah satu dari sekian banyak yang dapat ku petik dalam film yang kami tonton hampir 2,5 jam itu. Bercerita tentang 3 bocah yang memiliki kedekatan yang sangat intim. Keintimannya diletakkan dalam setting tempat sebuah daerah di Sumatera pada dekade 80-an. 3 bocah yang mengawali masa remajanya dengan segenggam mimpi dan gigih membuat mimpi mereka terwujud. Cita-cita untuk berkeliling Benua Eropa dan belajar di salah satu universitas di Prancis. Ikal, aray dan zimbron nama ketiga bocah itu. Waktu terus berputar seiring kegigihan mereka mewujudkan mimpinya. Hingga suatu waktu angin tak berhembus seperti biasanya. Dihantamnya kencang usaha yang menjadi batang mimpinya. Ikal, mendapat cerita tentang leluhur tanah mereka. Leluhur mereka ada sebagai pelaut, dan mereka (leluhur mereka) dapat berkeliling dunia hanya dengan bekerja menjadi pelaut (tanpa sekolah tinggi). Namun satu budaya yang hendak merasukinya berhasil ditepis oleh keintiman hubungannya dengan dua kawannya yang lain. Hingga kembalilah mereka ke jalan mengejar impian yang mereka yakini benar. Keyakinan itulah yang membuat mereka merasa mampu mewujudkan impian itu. Dari situlah mereka dapati hal yang mereka impikan dalam kenyataan. Ya, ikal dan aray bisa berkeliling Eropa, bukan sebagai pelaut, namun sebagai mahasiswa S2 di salah satu universitas yang ada pada mimpinya. Mereka mampu mewujudkan cita-citanya. Mereka bisa membuktikannya. Menginspirasi masyarakatnya untuk beralih pada budaya yang lebih baik. Mereka sedang menyatakan bahwa mereka dan semua orang berhak untuk mendapatkan yang lebih baik.

Sang Pemimpi

Malam tadi aku diajak menonton film oleh kekasihku. Bioskop terbagus di kota ini, di satu-satunya bioskop itu kami menonton. Sebuah film karya Riri Riza bertajuk “Sang Pemimpi”. Tanggal 19 Januari 2010 kemarin adalah pemutaran perdana film itu di kota kami setelah lama kami dengar bahwa film itu adalah lanjutan film “Laskar Pelangi”. Film yang sedikit dialog ini sangat menarik seperti film yang mendahuluinya. Revolusi kebudayaan. Itu mungkin salah satu dari sekian banyak yang dapat ku petik dalam film yang kami tonton hampir 2,5 jam itu. Bercerita tentang 3 bocah yang memiliki kedekatan yang sangat intim. Keintimannya diletakkan dalam setting tempat sebuah daerah di Sumatera pada dekade 80-an. 3 bocah yang mengawali masa remajanya dengan segenggam mimpi dan gigih membuat mimpi mereka terwujud. Cita-cita untuk berkeliling Benua Eropa dan belajar di salah satu universitas di Prancis. Ikal, aray dan zimbron nama ketiga bocah itu. Waktu terus berputar seiring kegigihan mereka mewujudkan mimpinya. Hingga suatu waktu angin tak berhembus seperti biasanya. Dihantamnya kencang usaha yang menjadi batang mimpinya. Ikal, mendapat cerita tentang leluhur tanah mereka. Leluhur mereka ada sebagai pelaut, dan mereka (leluhur mereka) dapat berkeliling dunia hanya dengan bekerja menjadi pelaut (tanpa sekolah tinggi). Namun satu budaya yang hendak merasukinya berhasil ditepis oleh keintiman hubungannya dengan dua kawannya yang lain. Hingga kembalilah mereka ke jalan mengejar impian yang mereka yakini benar. Keyakinan itulah yang membuat mereka merasa mampu mewujudkan impian itu. Dari situlah mereka dapati hal yang mereka impikan dalam kenyataan. Ya, ikal dan aray bisa berkeliling Eropa, bukan sebagai pelaut, namun sebagai mahasiswa S2 di salah satu universitas yang ada pada mimpinya. Mereka mampu mewujudkan cita-citanya. Mereka bisa membuktikannya. Menginspirasi masyarakatnya untuk beralih pada budaya yang lebih baik. Mereka sedang menyatakan bahwa mereka dan semua orang berhak untuk mendapatkan yang lebih baik.

Rabu, 20 Januari 2010

Century dan Upaya Kanalisasi

kemarin lalu sempat terduduk bersama teman di sebuah warkop. Memang, mengopi adalah kegemaran kami. Seringkali saat menghabiskan secangkir kopi membutuhkan waktu yang lama. 6 bahkan terkadang sampai 12 jam. Waktu selama itu hampir atau bahkan tidak terasakan bagi kami. Berbagai tema saling ditawarkan. Dari informasi-informasi kecil hingga isu nasional, atau bahkan celetukan kecil untuk merenggangkan pikiran. Hingga telah sampai kami pada dua orang yang menurut kami sangat berpengaruh di negeri ini. Pada awalnya kami tertarik membahas kasus bank century. Yang kemudian mengantarkan kami pada dua stasiun TV yang menyiarkan secara eksklusif kasus itu. Sepertinya kasus ini telah menggeret mata publik. Betapa kami semua merasa sedang dialihkan olehnya. Dua stasiun TV itu sepertinya telah menggeret mata Indonesia ke dalam satu dua tempat di Jakarta. Kami merasa Indonesia semakin sempit saja saat itu. Kami (masyarakat) kehilangan informasi dari kota-kota lain di negeri ini. Kami ketakutan. Kami tidak tahu kabar saudara-saudara kami disana (luar jawa). Apakah tambang emas di Papua sudah habis terkeruk. Ataukah minyak di negeri ini telah terkuras habis? Kami bukanlah menganggap kasus century tidak penting. Kami hanya ingin mengajak setiap saudara semua lebih waspada. Karena sepertinya kita semua ma-sya-ra-kat sedang terpetak. Petakan itu masing-masing dimasuki permasalahan untuk kita bingungkan. Waspada disini dimaksudkan agar kita semua tahu kondisi saudara kita yang ada di petakan-petakan lainnya.

Masa Depan

Masa Depan
Mereka dan Masa Depan Indonesia